BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Pisang Sale
Sale pisang
adalah makanan hasil olahan dari buah pisang yang disisir tipis kemudian dijemur. Pisang sale
ini bisa langsung dimakan atau digoreng dengan tepung terlebih dahulu. selain
itu, saat ini sale pisang mempunyai berbagai macam rasa seperti rasa keju dan
produksi pisang sale sudah menembus pasar internasional.
Sale pisang merupakan produk pisang
yang dibuat dengan proses pengeringan dan pengasapan. Sale dikenal mempunyai
rasa dan aroma yang khas. Tujuan penjemuran adalah untuk mengurangi kadar air
buah pisang sehingga pisang sale lebih tahan lama.
Sifat-sifat penting yang sangat
menentukan mutu sale pisang adalah warna, rasa, bau, kekenyalan, dan ketahanan
simpannya. Sifat tersebut banyak dipengaruhi oleh cara pengolahan, pengepakan,
serta penyimpanan produknya. Sale yang dibuat selama ini sering kali mutunya
kurang baik terutama bila dibuat pada waktu musim hujan. Bila dibuat pada musim
hujan perlu dikeringkan dengan pengeringan buatan (dengan sistem tungju).
Ada 3 (tiga) cara pembuatan sale pisang, yaitu :
Salah satu proses sesudah penjemuran dalam pisang sale
adalah cara pengasapan dengan menggunakan belerang, bertujuan untuk :
Berdasarkan
cara konsumsi buahnya, pisang dikelompokkan dalam dua golongan, yaitu pisang
meja (dessert banana) dan pisang olah (plantain, cooking
banana). Pisang meja dikonsumsi dalam bentuk segar setelah buah matang,
seperti pisang ambon, susu, raja, seribu, dan sunripe. Pisang olahan
dikonsumsi setelah digoreng, direbus, dibakar, atau dikolak, seperti pisang
kepok, siam, kapas, tanduk, dan uli.
Selain
memberikan kontribusi gizi lebih tinggi daripada apel, pisang juga dapat
menyediakan cadangan energi dengan cepat bila dibutuhkan. Termasuk ketika otak
mengalami keletihan. Beragam jenis makanan ringan dari pisang yang relatif
populer antara lain Kripik
Pisang asal Lampung, Sale pisang(Bandung), Pisang Molen (Bogor), dan epe
(Makassar).
B.
Kandungan
Gizi
Pisang
mempunyai kandungan gizi sangat baik, antara lain menyediakan energi cukup
tinggi dibandingkan dengan buah-buahan lain. Pisang kaya mineral seperti
kalium, magnesium, fosfor, besi, dan kalsium. Pisang juga mengandung vitamin,
yaitu C, B kompleks, B6, dan serotonin yang aktif sebagai neurotransmitter
dalam kelancaran fungsi otak.
a. Energi
Nilai energi
pisang sekitar 136 kalori untuk setiap 100 gram, yang secara keseluruhan
berasal dari karbohidrat. Nilai energi pisang dua kali lipat lebih tinggi
daripada apel. Apel dengan berat sama (100 gram) hanya mengandung 54 kalori.
Karbohidrat
pisang menyediakan energi sedikit lebih lambat dibandingkan dengan gula pasir
dan sirup, tetapi lebih cepat dari nasi, biskuit, dan sejenis roti. Oleh sebab
itu, banyak atlet saat jeda atau istirahat mengonsumsi pisang sebagai cadangan
energi.
Kandungan
energi pisang merupakan energi instan, yang mudah tersedia dalam waktu singkat,
sehingga bermanfaat dalam menyediakan kebutuhan kalori sesaat. Karbohidrat
pisang merupakan karbohidrat kompleks tingkat sedang dan tersedia secara
bertahap, sehingga dapat menyediakan energi dalam waktu tidak terlalu cepat.
Karbohidrat pisang merupakan cadangan energi yang sangat baik digunakan dan
dapat secara cepat tersedia bagi tubuh.
Gula pisang
merupakan gula buah, yaitu terdiri dari fruktosa yang mempunyai indek glikemik
lebih rendah dibandingkan dengan glukosa, sehingga cukup baik sebagai penyimpan
energi karena sedikit lebih lambat dimetabolisme. Sehabis bekerja keras atau
berpikir, selalu timbul rasa kantuk. Keadaan ini merupakan tanda-tanda otak
kekurangan energi, sehingga aktivitas secara biologis juga menurun.
Untuk
melakukan aktivitasnya, otak memerlukan energi berupa glukosa. Glukosa darah
sangat vital bagi otak untuk dapat berfungsi dengan baik, antara lain
diekspresikan dalam kemampuan daya ingat. Glukosa tersebut terutama diperoleh
dari sirkulasi darah otak karena glikogen sebagai cadangan glukosa sangat
terbatas keberadaannya.
Glukosa darah
terutama didapat dari asupan makanan sumber karbohidrat. Pisang adalah
alternatif terbaik untuk menyediakan energi di saat-saat istirahat atau jeda,
pada waktu otak sangat membutuhkan energi yang cepat tersedia untuk aktivitas
biologis.
Namun,
kandungan protein dan lemak pisang ternyata kurang bagus dan sangat rendah,
yaitu hanya 2,3 persen dan 0,13 persen. Meski demikian, kandungan lemak dan protein
pisang masih lebih tinggi dari apel, yang hanya 0,3 persen. Karena itu, tidak
perlu takut kegemukan walau mengonsumsi pisang dalam jumlah banyak.
b. Mineral
Pisang kaya
mineral seperti kalium, magnesium, fosfor, kalsium, dan besi. Bila dibandingkan
dengan jenis makanan nabati lain, mineral pisang, khususnya besi, hampir
seluruhnya (100 persen) dapat diserap tubuh. Berdasarkan berat kering, kadar
besi pisang mencapai 2 miligram per 100 gram dan seng 0,8 mg. Bandingkan dengan
apel, yang hanya mengandung 0,2 mg besi dan 0,1 mg seng untuk berat 100 gram.
Kandungan
vitaminnya sangat tinggi, terutama provitamin A, yaitu betakaroten, sebesar 45
mg per 100 gram berat kering, sedangkan pada apel hanya 15 mg. Pisang juga
mengandung vitamin B, yaitu tiamin, riboflavin, niasin, dan vitamin B6 (piridoxin).
Kandungan
vitamin B6 pisang cukup tinggi, yaitu sebesar 0,5 mg per 100 gram. Selain
berfungsi sebagai koenzim untuk beberapa reaksi dalam metabolisme, vitamin B6
berperan dalam sintetis dan metabolisme protein, khususnya serotonin. Serotonin diyakini berperan aktif sebagai neurotransmiter dalam kelancaran fungsi
otak.
Vitamin B6
juga berperan dalam metabolisme energi yang berasal dari karbohidrat. Peran
vitamin B6 ini jelas mendukung ketersediaan energi bagi otak untuk aktivitas
sehari-hari.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar